The reunion.

November 14th, 2007 by febie-saka

Makin dekat tanggal reuni SMA angkatan gue, makin bikin gue banyak berpikir dan juga bernostalgia. Akhirnya setelah beberapa hari yang lalu, sms dengan salah satu teman lama, gue pun mulai mendapat insight untuk menulis tentang reuni ini.

Why go to the reunion? What is the main reason for coming?

Well, let me tell you that in the beginning, I wasn’t even so sure about coming.

Gue ga yakin alasan untuk datengnya apa. Apa karena kangen temen2 SMA? Karena SMA gue muridnya banyak banget, otomatis terdiri dari banyak golongan, dan memang gue termasuk golongan anak yang asik2 aja di kelas. Ga banyak gaungnya di luar kelas. Ekskul yang gue ambil taekwondo yang meski jumlah anggotanya banyak tapi kalah jauh gaungnya sama  cheerleader atau dance.

Jadi teman SMA yang gue kategorikan bisa dikangenin itu kebanyakan temen sekelas gue, yang mana mereka ini masih sering gue temuin paling ga tiap buka puasa bareng. Selain itu, seberapa banyak ya temen sekelas yang akan dating nantinya?

Jadi apa dong alasannya? The next thing that went across my mind was, to show my old friends the person that I’ve become. Kayanya yang ini alasan klise banget ego tiap individu. Pengen nunjukkin keberhasilan dalam hidup, jabatan karier dengan kartu nama keren, bentuk fisik yang mungkin jauh lebih matang dan menarik daripada waktu di SMA, pasangan hidup dan keluarga yang sempurna, titel sepanjang kereta api… dan sebagainya. Tapi kalau dipikir lagi, gue kayanya masih biasa aja, masih ngga menganggap hidup gue lebih dibanding hidup orang lain, karena tentunya hidup tiap orang kan beda, tergantung yang menjalaninya.

Gue memilih untuk jadi stay at home mom, dengan tetap beraktualisasi diri dan mencari uang dengan bekerja di rumah. Jadi soal karier dan kartu nama bisa dicoret aja. Title mentok di s1 yang walau begitu gue amat mensyukurinya, karena masih bisa kuliah di universitas negeri yang membawa nama Negara. Jadi kalau mau panjang-panjangan ya.. wassalam aja. Soal fisik, waduh kalau kata orang sih gue masih sama menariknya kaya dulu J jadi mungkin ngga perlu dibahas ya. Tapi memang soal keluarga.. hmm, even though they may not be perfect on paper, but to me they are. They are my life. My world. My Universe.

Okay, so I could just bring my family then.

The problem is, as I say that we are not perfect on paper J, my ‘imperfect’ children hate being in the crowd. Hate parties. And all that stuff related to those issues.

And their ‘imperfect’ mom doesn’t want to be bothered by their wining and grumpy faces all day because they’ve been forced into doing what they hate the most. Just for playing the role of a perfect family in front of moms old high school friends.

Oh my god.

I just realized something.

Alasan alasan gue diatas bikin gue merinding. What has this reunion made me? Gue ngga kedengeran seperti gue. It made me thinking about faking my life. My happiness. 

Wah ngga deh. Gue musti cari alasan lain. Gue ngga mau dateng bukan sebagai gue.

So what else..

Then something hit me really hard.

Ada dua buah email yang ditujukan buat panitia. Mempertanyakan apakah diri mereka worthy enough untuk dateng ke acara reuni. Wah jauh lebih parah dari gue. Kalau gue bingung masih mikir sendiri. Ini udah bingung terus langsung counter attack ke panitia. Waduh. Gue ga bisa berhenti mikir. What were they thinking? Who are these selfish people?

Then I wrote a response, gue bilang why be so negative? Kalau cari alasan untuk dateng susah, ya ga usah mikir kenapa musti dateng. Jangan mikir why go to the reunion.

Mikir aja, why not?

Who knows who will we meet there. Kita juga ga akan tau apa yang aka kita dapet sepulang dari reuni. Entah perasaan puas ternyata mantan belum merit, perasaan bangga karena karier paling terlihat cemerlang, perasaan senang jadi pusat perhatian karena hidung yang tambah mancung, atau perasaan-perasaan lainnya.

Kita juga ngga akan tau info-info apa yang akan kita dapet nanti, soal kerja, parenting, rumah tangga, networking bisnis… basically, anything could happen.

Dan semua hal bisa terlihat jadi keuntungan kalau kita bisa selalu ambil hikmahnya. Bisa keep our mind as positive as they could be.

Well after all, manusia itu kan makhluk opportunis.

Jadi setiap hal yang kita lakukan mustinya sih punya benefit buat kita ya. So now, I have a reason.

Strangely enough, I’m not that relief.

There must be something else.

Then I had the chance of  sending a text to my old friend. Still a good friend of mine though. Temen gue ini lugas. Idealis. Kalau ngomong nyelekit tapi cerdas. Anak hukum jadi kayanya bisa panjang urusan kalau ngajak debat..

Dia seperti semua orang langsung tanya, apa alasan gue untuk dateng. Ngga tau kenapa gue rasanya pengin impress dia dengan bilang networking.

dia lalu membuat gue berpikir bahwa jawaban itu klise. Gue jadi malu sendiri. Aneh, kenapa musti malu kalau itu memang alasan gue?

Setelah sms-an cukup lama, kesimpulan akhir dia ngga dateng karena ada acara. That was an easy way of saying, I just don’t wanna go. No need to know my reasons.

End of conversation.

Phew. What a guy. I admire him though. Different story. End of discussion.

But then, he made me started to think again.

Gue merasa  bahwa  banyak banget hal yang sudah terjadi sama gue setelah SMA. Setelah lulus SMA, kita semua tentunya bergerak menuju jalan yang berbeda. Mengalami pengalaman yang berbeda. Menemukan diri masing-masing dengan cara yang berbeda.

Rasanya menarik kalau kita bisa melihat hasil perjalanan hidup teman-teman lama dalam mencari jati diri. Rasanya pasti menarik kalau bisa lihat dan kenalan lagi dengan teman-teman lama kita yang udah memperbaharui dirinya. Up grade their selves.

And then we could get to know each other all over again.

So it’s actually not just like meeting old friends, but it’s kinda like also meeting new people. Which I love to do.

We were in a process back then. So we weren’t completed yet. I say that 10 years is enough to have progress, even it’s as simple as having a haircut. Or getting married. J

Waktu SMA dulu, gue masih menilai segala sesuatu dengan berbagai dogma dan prasangka yang dibentuk oleh konformitas dan kesetiaan terhadap peer. Termasuk penilaian terhadap orang lain. Yang ini boleh ditemenin, yang itu jangan. Yang ini cukup level untuk diajak hang out, yang itu terlalu tinggi. Semua digolongkan ke dalam kotak- kotak dan dinilai berdasar hitam dan putih. Golongan A stay inside the group please, never be seen talking to one of those B’s or C’s. Not even a nod. As simple as that.

Setelah SMA berlalu, gue belajar banyak hal. Mulai lebih open minded. Love meeting other personalities and their different perceptions.

Dan anehnya, gue mulai banyak mengenal lebih dalam teman-teman SMA gue yang dulu bahkan mungkin ngga kepikir bisa disapa. And it was heaps of fun. Discovering  these people, these old but new friends. Thinking outside the box. Breaking all those silly group rules. Leaving all the judgement behind.

I could actually relate to some of these old friends.

And we’ve became good friends since.

Gue sadar bahwa gue pengin dateng dengan diri gue yang baru, dengan pola berpikir gue yang baru. Dengan confidence yang baru.

Dateng sebagai individu dan bukan bagian dari suatu golongan.

Buat kenalan lagi. Dan berharap bisa mengenal ‘teman lama yang baru’ lebih baik lagi. It’s gonna be interesting.

So if you like remembering the good old days, so be it.

If you love to meet new people, I bet there will be loads of new people there.

Neither one, you could always use the networking reasons. J

There you have it. My reasons for going to the reunion.

Febie saka.

Depok, 3 days before reunion.

I love you, Bunda.

January 27th, 2007 by febie-saka

Sudah sebulan ini Kaka lagi seneng banget komat kamit pakai bahasa inggris. Dan ada beberapa kalimat yang berhasil dia ‘copy-paste’.

Dia sering bilang, “bunda, wait for me!”, padahal gue cuma pergi ke dapur.

Terus dia suka tau2 teriak, “ mommy where are you…?!”, padahal gue ada disampingnya.

Dia juga sering tiba2 bilang, “ bunda.. are you okay?”, saat gue lagi diem dan terlihat galau. Nah kalau yang ini bener kayanya ya…

But today, he gave me a surprise. A very special surprise. Saat gue lagi bete karena summer di oz bener2 bikin nyesek, dan suhu yang almost 40 itu bikin dhyas rewel ngga menentu, he actually came to me and said, “ I love you bunda”….

And that was the first time he said it on his own will.

It stunned me, and forced me to break into tears (how mushy am I?)

How amazing is that?

I could never ask for any better surprise than that.

Melbourne.

09.01.07

Material world.

January 27th, 2007 by febie-saka

Susah memang, lahir, tumbuh dan besar di negara yang punya kesenjangan ekonomi sosial yang tinggi kaya di indo, money value ngga jarang dijadiin dasar untuk nge judge dan men treat orang lain.

Dan itu udah terlalu mengakar, sampai sampai udah tinggal di luar negeri pun masih begitu. We tend to treat and judge people by their economical and social background, their race and religion. Ngga heran meski di luar negeri, (apalagi di Melbourne yang banyak orang indonya) bangsa kita terpecah belah.

Such pitty. Such irony.

My parents taught me not to judge and treat people by their social economics race religion backgrounds. And I try not to. Ironically, all my life, for as long as I can recall, others kept doing it towards me. Judging and treating me by my social economical background. How frustating.

Mulai dari SD, sampai kuliah, sampai sekarang. Ngga sedikit orang yang temenan sama gue dengan ‘misi’ tertentu. Sampai ada masanya untuk gue susah banget buat percaya sama orang lain. I felt so alone, and don’t have anyone else to trust besides my parents, it was in the old days (offcourse now I have 1 man and 2 boys to trust my life with haha..).

But I always tried to be genuine.

Just being me.

Tanpa embel2 segala background apa lah itu tadi, trying to be as simple as possible, living an ordinary life. I want people to look at me, just the way I am.

If they want to be friends, if they like me,

hopefully it’s because of my personality, my knowledge.

Bukan karena yang lain2. It’s just silly.

I don’t belive in such thing. Why should there be any limitations to friendships?

Kenapa untuk berteman aja kita musti liat backgroundnya?

Wouldn’t it be nice to have as many friends as possible, ngga peduli backgroundnya gimana? Well, that’s my personal opinion though.

Sekuat tenaga gue berusaha untuk ngga jadi munafik. Konsisten dengan apa yang gue percaya. Memperlakukan semua orang sama, dan ngga melihat orang hanya dari background nya, berteman setulus mungkin. Dan itu perjuangan yang cukup berat, because we do live in a material world.

Where people are treated by their first appearance,

by their money, their social status, race and religion.

Where books are judged by their cover.

So what do I do now?

Tetap dengan value yang gue anut, being a deviant, sabar ngadepin treatment yang gue terima dari sekitar gue, being proud of what I believe, be as genuine as possible and pass these values to my boys..

Or just go on with the flow? Become one of those material minded people?

Being a hypocrit in order to survive?

Should I compromise?

If you know me well enough,

You’ll know my answer.

Melbourne.

15.01.07

The great expectations.

December 15th, 2006 by febie-saka

I personally think,

the greatest expectations in life are the expectations parents have for their children.

Gue pribadi merasa bahwa sekitar 70% masalah dalam hidup gue, berasal seputar these so called parents expectations. Konsep diri yang rendah, juga berawal dari gue ngerasa ngga bisa jadi seperti apa yang diharapkan orang tua  gue. Dan harapan berlipat ganda saat lo adalah seorang anak tunggal. Pheeeew..

Kadang gue ngerasa kecewa banget, why can’t my parents just let the whole thing go, just accept that I’m not going to be the person that they wanted me to be.

Tapi ya kenyataannya ngga tuh. Mereka sampai sekarang masih tetap berpegang pada harapan2 itu, masih ngga mau melepas bayangan anak ideal mereka, mimpi masa depan mereka. Gue udah segede ini masih belum bisa ‘dilepas’ dengan ihklas, untuk memutuskan masa depan gue, to be the someone that I wanted to be.

And things will get worst when you actually have your own family.

But last night,

I come to think, that I also have these expectations towards both of my boys. Maybe especially kaka.

Bahkan sebelum gue punya anak, gue membayangkan punya anak yang kuat, berani, dsb dsb.. yah hampir sama dengan bayangan orang tua lain. Mungkin gue lebih mengharapkan mereka jadi ‘agak’ seperti gue waktu kecil, agresif, berani, easy going, aktif, sociable, senang memimpin (baca: menindas) anak lain..J.. macho..hahaha well, kurang lebih kaya gitu lah..

Now, the reality, kaka semenjak pindah jadi ‘kurang berani’ (bukan penakut). Susah beradaptasi. Kurus. Kecil. Jadi tambah Less sociable. Sering di bully anak lain. Dsb. Dsb.

Semua berbanding terbalik dengan harapan2 gue.

Dan sumpah berat banget buat gue untuk bisa ikhlas nerima kenyataan ini. Gue kadang kecewa banget, terus gue berusaha menyalahkan diri gue instead of him.

Then I come to realize that maybe this is how my parents feel about me.

Maybe it is hard for parents to let go of their dreams.

Just like it’s hard for me to let go of my dreams.

Tapi ini bukan pembenaran.

I am not my parents.

And my children are not me.

I realize that this may be the greatest challenge of being a parent.

To be ikhlas, and accept them for who they are. And let them be what they wanted to be.

Expectations are still important though, for aiding them, guiding them.

But that’s all, gue Cuma bisa membimbing, teaching them values, guide and protect them. But then, it’s all up to them.

If  they don’t end up just like how you expect them to be,

you should just try to let those expectations go away. 

Melbourne.

15.12.06

My very first baking experience.

December 15th, 2006 by febie-saka

Can you imagine, me, myself, in the kitchen, doing some baking?

Well, I should say that it’s not easy to imagine such thing.

But you should try.

Cause I actually did some baking.

In fact, I remember my very first baking experience.

I baked bread and butter pudding.

It was an easy one, offcourse..

After all, it was my first baking, what do you expect?

Now, after almost a year,

After being a person who hates to be in the kitchen so much,

I’ve already tried baking baked pasta, baked potato, cakes, breads, cookies, slices and cheesecakes!

Now that’s what I call making progress!

Not so bad, don’t you think?

Melbourne

01.12.06

The Commitment.

December 15th, 2006 by febie-saka

The biggest commitment that I’ve ever made was the commitment I made with my children.

Semenjak gue kecil, gue sudah berjanji akan berkomitmen sama anak2 gue nantinya, komitmen penuh sama mereka, 100 %, just like my mom did to me.

Sayangnya kadang gue seperti tidak sepenuh hati menjalaninya. Ada aja yang gue sesali.kadang gue ngerasa masih belum achieve beberapa hal yang gue impikan, kadang ngerasa belum aktualisasi diri, kadang ngerasa kesepian karena lingkungan sosial yang terbatas. Tapi ini kan pilihan yang sudah gue ambil. Sayangnya dulu gue ambil pilihan ini ‘hanya’ karena gue ingin seperti nyokap gue. I just wanna be like her, she was always there for me. And I wanted to be like that with my own kids. And fortunately, I inherited her passion in business. So I made my decision, I had my own business. (selain karena I always wanted to be my own boss! It’s so an only child thing!) dengan begitu I could have it all. Komit sama anak2, waktu yang fleksibel, aktualisasi diri, buka lahan pekerjaan (though it sounds fake, but this was my childhood dream) dan ikut nyari uang.

But that wasn’t enough. Gue masih ngerasa berat ngejalaninnya.

Cuma prinsip gue, kalau udah komit  ya musti dijalanin.

I always wonder why my mom did it. How she could make it.

Setelah dhyas lahir, gue kok jadi kaya dapat pencerahan.

I understand now, why she did what I’m doing now.

Punya anak di luar negeri, bikin gue lebih menghayati peran orang tua. Padahal dulu pas kaka lahir, gue juga ngga pernah pakai jasa babysitter. Hanya jasa pembantu dan grandparents. J

I enjoy watching him and his brother grow. And it’s amazing.

Gue pikir sangat menakjubkan bisa ngeliat baby yang needs nya ‘Cuma’ lapar, sakit, tidak nyaman, berubah pelan2. it’s not just the physical changes. It’s just amazing how they could develop their needs, and suddenly they even have their own personality! Pada saat itu rasanya gue baru sadar kalau gue punya seorang ‘manusia kecil’.. phew!..subhanallah banget ya.. such a responsibility. Such joy.

Pada saat itu gue sadar kenapa nyokap mengambil pilihan  bisnis di rumah.

And give up her career.

Itu semua karena melihat gue tumbuh besar dan dewasa adalah sebuah pengalaman yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Gue sadar karena sekarang gue merasakan hal yang sama.

Kalau sudah menyangkut perkembangan kaka n dhyas, rasanya waktu berjalan cepat banget buat gue. Belum puas ngeliat perkembangan barunya, the next thing you know, he’d already develop something else! Those moments are amazing.

And when you’re enjoying yourself, time flies, right?

That’s why, I love to enjoy every minute and every second of my precious time with them. It seems like I will never have enough of it.

Insya Allah, kalau diizinkan Allah SWT, gue bisa aktualisasi diri kapan aja. Mau umur 30 atau 60 tahun, semua masih mungkin. Mau sekolah lagi, insya Allah kalau ada rezeki dan kesempatan, juga masih bisa gue lakukan nanti. Cari uang, insya Allah juga bisa dilakukan dengan berbagai cara. Gue akan selalu cari jalan untuk bisa cari uang dengan fleksibilitas tinggi. It’s a win win solution.

(well you could always sell something on ebay)

But those amazingly precious moments, I couldn’t bare to miss them.

Couldn’t bare to watch them pass me by.

Those magic moments.

Those ‘once in a lifetime’ experiences.

Nothing can stop me from watching my children grow.

Melbourne.

11.12.06

Madhyasta, my second mentor.

December 1st, 2006 by febie-saka

Ternyata ngga semua hal bisa diajarin kaka ke gue. Or at least, all by himself. Mungkin satu guru aja kurang buat ngajarin gue (gue nya yang lemot kali ya? Hehe)

Soalnya Alhamdullilah gue ‘dikirimin’ satu guru lagi… yang pastinya akan ngajarin hal hal yang berbeda dari apa yang udah diajarin kaka ke gue.

I’ve been blessed with another gift from Allah SWT, his name is Madhyasta.

A new challenge, because in my perception, every gift has it’s own challenge.

Every right has it’s own responsibilities.

Jadi setiap berkah dari Allah adalah juga suatu cobaan.

Karena apapun yang diberikan, apakah itu rezeki material, jodoh, anak

Semua ada cobaannya masing masing

Makanya gue belajar, bener bukan klise, kalau orang bilang makin banyak cobaan berarti lo makin disayang Allah.

Soalnya gue pikir, itu berarti kita makin diberi kesempatan untuk nunjukkin kemampuan kita dalam problem solving J

Makin dikasih kesempatan untuk belajar sabar.

Makin dikasih kesempatan untuk belajar bersyukur..

Dan tentunya makin dikasih kesempatan untuk mencari kebahagiaan dunia akhirat

Phew!

Look how much he has taught me in just a few days of his life

I just can’t wait to learn more..

Melbourne

26.10.06

Patience.

December 1st, 2006 by febie-saka

Orang sabar itu disayang Tuhan, katanya.

Percaya deh. Percaya banget.

Soalnya yang namanya sabar itu gue rasain adalah hal yang paling susah untuk gue pelajarin. Untuk gue lakuin. Dan juga berat.

Ujian kesabaran buat gue, diantaranya, bernama cakra. Yup. My son cakra.

Semakin mendekati due date kelahiran adiknya, kayanya kaka makin sering cari gara gara deh sama gue. Makannya tambah susah, jadi sering tantrum, kalau ngamuk nendangnya minta ampun, jadi rebel banget, adaaaa aja yang jadi masalah tiap hari.

Like today.

Dari pagi, mandi udah susah. Berhasil ‘dipaksa’ mandi, susah untuk udahan, setelah ‘berantem’ dulu, akhirnya berhasil udahan. Abis itu ngamuk ngga mau pakai nappy. Berhasil ‘ngelepas’ paksa nappynya, dengan sukses dia pipis di atas bantal gue.

Pheeew… ini baru jam 10 pagi..

Akhirnya thanks to dora and boots, gue berhasil makein nappy and baju lengkap.

Okay, next mission. Lunch.

Setelah belakangan ini menolak berbagai makanan favoritnya. Dia mau juga makan burger daging yang udah gue selundupin brokoli di tengahnya. Walah! Tiba tiba di tengah acara makan dia ngerebut garpunya dan mulai mengamati tu burger. Jeli juga dia, akhirnya dia ngeliat juga brokolinya! Dengan panik gue berusaha mengalihkan perhatiannya. But it’s too late. That’s it. Semenjak itu dia selalu maksa untuk makan sendiri, dan sebelum masuk mulut musti diteliti dulu, ada kandungan brokoli atau nasinya atau ngga.. pheeew…

And the day is not over yet…

No wonder orang sabar disayang Tuhan…

(iya, bukan berarti orang yang ngga sabar ngga disayang Tuhan kok..)

Melbourne.

02.10.06.

Beyond the blues.

October 9th, 2006 by febie-saka

It was supposed to be the happiest moments in one’s life.

The most remarkable experience.

Well, it was. So why did I felt that way?

Why couldn’t I enjoy it, be grateful about it?

Those feeling was wrong. I shouldn’t felt that way.

I was supposed to be happy. To be proud.

I was supposed to feel the love. Not the dilemma.

And  I felt guilty for it.

Why did I feel that way?

Why did I have the blues?

melbourne. 061006.

Nasionalisme yang tertunda.

October 9th, 2006 by febie-saka

Banyak yang ketawa ngeliat perubahan gue dalam hal nasionalisme.

Apa yang lucu ya?

Menurut gue ironis betapa gue baru menyadari arti nasionalisme, baru setelah gue  tinggal jauh dari rumah. Baru setelah gue merantau begini.

Yang paling berasa,

Ngga tau kenapa, gue jadi cinta banget sama produk dalam negeri. Kadang agak berlebihan bahkan J korek api aja dibela2in beli yang made in

Indonesia

. Dari hal2 yang tampak ‘sepele’ sebelumnya, nyanyi lagu2 perjuangan buat kaka, atau kaya gue jadi koleksi film n novel indo, berburu resto indo disini, browsing history indo, sampai gue jadi lebih ngikutin n concern dengan masalah2 politik sosial di indo (dan ngerasa broken hearted banget setiap denger atau baca berita tentang indo)

Kenapa ya baru sekarang gue bisa ngerasain hal2 seperti ini?

Gue rasa awalnya sekedar karena kangen.

Pertanyaan berikutnya, kalau udah pulang nanti, apakah gue akan tetap ngerasain nasionalisme ini? Nasionalisme yang berkembang semata2 karena homesick.

Melbourne

.041006.